Polewali Mandar, Tomandar – Kemajuan ekonomi, teknologi, dan pendidikan ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Di tengah derasnya arus modernisasi, kecemasan, konflik keluarga, dan persoalan kesehatan mental justru semakin mengemuka.
Pesan itu menjadi benang merah dalam Seminar Psikologi untuk Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (BPP-KWMSB), di Ruang Pola Kantor Bupati Polewali Mandar, Senin, (6/7/26).
Narasumber utama, Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kesejahteraan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas kesehatan mental, hubungan sosial, dan kehidupan spiritual masyarakat.
“Keluarga adalah fondasi utama pembentukan manusia yang tangguh. Data Harvard Study of Adult Development, hubungan yang hangat antara orang tua, pasangan, dan anak menjadi faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan dan kesehatan seseorang,” ucap Jufri.
Menurutnya, keluarga yang mampu bertahan menghadapi tekanan adalah keluarga yang membangun komunikasi terbuka, saling percaya, mampu beradaptasi saat krisis, serta memiliki nilai spiritual yang kuat.
“Resiliensi, bukan berarti tidak pernah jatuh, namun itu adalah kemampuan untuk bangkit dan menjadi lebih kuat setelah menghadapi kesulitan,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan yang adaptif di era kecerdasan buatan (AI). Pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada hafalan, tetapi harus membentuk kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kecerdasan emosional. Dalam konteks ini, ibu memegang peran strategis sebagai pendidik pertama sekaligus pembentuk karakter anak di lingkungan keluarga.
“Harapannya, kebijakan publik disusun dengan mempertimbangkan dampak psikologisnya terhadap masyarakat. Karena pembangunan harus berorientasi pada kesejahteraan manusia secara utuh, tidak hanya faktor ekonomi,” kata Guru Besar Psikologi UNM itu.
Seminar tersebut juga mengangkat nilai budaya Mandar Sibaliparri’ sebagai modal sosial yang perlu dihidupkan kembali untuk memperkuat solidaritas keluarga dan masyarakat. Perempuan Mandar dipandang memiliki peran penting sebagai pendidik generasi, penjaga nilai budaya, sekaligus agen perubahan sosial.
“Kesejahteraan masyarakat tidak lahir dari gedung-gedung yang megah, tetapi dari keluarga yang sehat, pendidikan yang adaptif, dan kebijakan yang berkeadilan,” pungkasnya***


