Merekam Karya, Merawat Budaya

Merekam Karya, Merawat Budaya

Ratapan Kerinduan Rumi dan Jalan Sunyi Para Pencari Tuhan

Tanggal:

Oleh: Dr. Muhammad Zain
(Ketua Umum BPP-KKMSB/ Dosen UIN Syarifhidayatullah, Jakarta/ Kepala Biro SDM Kemenag RI)

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan gaduh, karya-karya tasawuf terasa seperti oase. Salah satu buku yang layak dibaca adalah Ratapan Kerinduan Rumi ( Tears of The Heart), karya Osman Nuri Topbaş. Buku ini merupakan komentar atas *Masnawi karya maestro sufi dunia, Jalaluddin Rumi.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Andi Nurbaety, dosen UIN Alauddin Makassar, dan diterbitkan oleh Mizan pada 2015, buku ini membantu pembaca memahami kisah-kisah alegoris dan metaforis Rumi dengan lebih jernih dan membumi.

Melalui kisah dan renungan yang disajikan, pembaca diajak menyelami perjalanan jiwa menuju Tuhan—sebuah perjalanan yang sunyi, tetapi sarat makna.

Alkisah, seorang Arab Badui miskin hidup di tengah gurun bersama isterinya yang setiap hari mengeluh. Sang isteri sudah tak tahan menahan pedihnya derita hidup miskin. Suaminya membujuknya dengan petuah dan hadis Nabi Saw, bahwa kemiskinan itu adalah kebanggaanku.

Ah, jangan menipuku lagi dengan kata-kata manis, sergah isterinya. Aku tidak akan terpengaruh lagi dengan kata-katamu yang menghibur, tegas isterinya. Benarlah kata bijak bestari, bahwa terkadang laki-laki pemberani sekali pun merupakan “tawanan” bagi isterinya.

Sang suami sudah kehilangan akal, dan hampir saja meninggalkan isterinya. Isterinya pun sedih, dan khawatir akan kehilangan sang suami.

Walhasil, mereka menemukan solusi. Yakni, air hujan yang ingin dipersembahkan kepada Khalifah di Baghdad. Air hujan yang jernih adalah harta yang paling berharga bagi si badui yang hidup di tengah gurun pasir yang kering kerontang.

Kendi Air itu dia persembahkan kepada Khalifah. Berhari-hari ia melewati teriknya gurun. Sesampainya di istana Baghdad, ia pun bergegas hendak bertemu Khalifah. Singkatnya, ia bertemu Khalifah dan menyampaikan hajatnya. Khalifah menerima air kendi tersebut dan menukarnya sejumlah kepingan emas dan dirham.

Khalifah berucap kepada punggawa kerajaan, antarkan si Badui pulang. Dan bawalah ia melewati sungai Tigris yang terkenal dengan airnya yang jernih lagi manis. Demikianlah, kisah alegoris sang hamba di hadapan Tuhannya. Hamba menyembah kepada-Nya dengan penuh harap, yang sesungguhnya Tuhan Maha Kaya terhadap sesembahan hamba-Nya. Tuhan tidak akan rugi, sekiranya seluruh hamba-Nya tidak menyembah-Nya.

Suka dan Duka Adalah Tamu
Rumi mengibaratkan suka dan duka sebagai tamu. Ia datang dan pasti pergi. Tidak ada kebahagiaan yang kekal, dan tidak ada pula kesedihan yang abadi. Bahkan duka disebut sebagai “angin rahmat” yang membersihkan debu yang menempel di hati. Kehidupan ibarat “Rumah Singgah”. Tetamu akan datang silih berganti. Orang baik dan yang buruk juga akan menjadi tamu kita. Sebab, kalau hanya orang baik saja yang diterima, maka ke manalah nasib orang-orang malang itu?

Perspektif ini mengajarkan kedewasaan spiritual: berdamai dengan luka, menerima penyakit sebagai bagian dari proses pemurnian, dan melihat penderitaan sebagai jalan menuju kedalaman makna hidup.

Bicaralah Tentang Mawar
“Bicaralah tentang mawar, bukan tentang pohonnya dan durinya.”
Kalimat sederhana ini mengandung pesan besar: fokuslah pada keindahan, bukan pada luka. Dalam dunia yang gemar memperbesar cela, Rumi mengajak kita merawat cara pandang yang positif dan penuh harap.

Dalam manajemen modern diajarkan bahwa untuk memajukan sebuah lembaga, maka yang pertama harus diperhatikan adalah kekuatan apa yang dimiliki. Kekuatan itulah yang “dikapitalisasi”, bukan berhenti pada kelemahan dan kekurangan organisasi tersebut yang menjadi fokus pembahasan.

Jalan Panjang Pengabdian
Kisah Baha-ud-Din Naqshbandi memberi pelajaran penting tentang kerendahan hati. Atas nasihat gurunya, Amir Kulal, ia berkhidmat kepada kaum lemah, merawat yang sakit, bahkan membersihkan jalanan selama bertahun-tahun sebelum mencapai derajat fana’ fi Allah. Ia rela merawat dan membalut luka anjing sekali pun.

Pesannya jelas: spiritualitas bukan sekadar zikir dan kata-kata indah, melainkan pengabdian nyata kepada sesama. Jalan menuju Tuhan seringkali dimulai dari pelayanan kepada makhluk-Nya.

Kata Tanpa Amal
Rumi menegaskan bahwa kata-kata tanpa perbuatan ibarat pakaian pinjaman. Indah dipandang, tetapi tidak benar-benar milik kita.

Pesan ini terasa relevan di era media sosial, ketika agama kerap hadir dalam simbol dan slogan, namun minim transformasi perilaku.

Mencari Tuhan di Atas Tahta
Kisah Ibrahim ibn al-A’dham menjadi alegori yang menggugah. Ia tersentak ketika disadarkan bahwa mustahil mencari Tuhan sambil duduk di atas tahta kemewahan dan kekuasaan. Dalam kisah lainnya, seekor kijang yang hendak diburunya justru “menegur” dirinya: apakah ia diciptakan hanya untuk membunuh?

Kisah-kisah ini melukiskan momen kesadaran eksistensial—ketika seseorang mempertanyakan kembali tujuan hidupnya, lalu berani meninggalkan zona nyaman demi kebenaran batin.

Krisis Spiritual dan Pencerahan al-Ghazali
Pergulatan batin juga dialami oleh Hujjat al-Islam Imam Al-Ghazali. Dalam karya otobiografinya, al-Munqidh min al-Dalal, ia mengisahkan krisis spiritual yang membuatnya meninggalkan kemewahan dan jabatan. Ilmu kalam, filsafat, dan logika yang selama ini ditekuninya tidak lagi memuaskan dahaga batinnya.

Melalui jalan tasawuf, al-Ghazali menemukan ketenangan. Ia menyadari bahwa kebenaran sejati bukan sekadar argumentasi rasional, tetapi pengalaman spiritual yang hidup dan menggetarkan hati.

Di tengah pergulatan batin Imam Al-Ghazali itu, lahirlah karya monumental beliau, Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din ( Menghidupkan/ Menyegarkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama). Barangkali pandangan dan petuah Imam al-Ghazali paling sering dikutip setelah hadis dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Artinya Imam al-Ghazali adalah ulama yang paling sering dikutip petuah-petuahnya.

Mengapa Tasawuf Penting Hari Ini?
Di tengah dunia yang bising oleh ambisi dan kompetisi, tasawuf menawarkan keseimbangan. Ia mengajarkan bahwa tujuan hidup bukan sekadar pengakuan sosial, melainkan keridhaan Ilahi.

Tasawuf bukan pelarian dari dunia. Ia justru mengajarkan bagaimana hidup di dunia tanpa diperbudak olehnya.

Barangkali, di era yang mudah mengguncangkan iman dan ketenangan batin, kita memang perlu kembali mendekat pada diskursus tasawuf—agar hidup lebih jernih, lebih tenang, dan lebih terarah.

Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar keberhasilan, melainkan makna kehidupan itu sendiri.(*)

Bagikan di:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer di Baca

Postingan Lainnya
Related

Rayakan HUT ke-16 dan Halal Bihalal, KWMSB Teguhkan Peran Perempuan Mandar

Tomandar, — Keluarga Besar Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat...

(Resensi) Bukan Cuma Manajer: Ini Bedanya Pemimpin Efektif Versi Buku “Leadership dan Kepemimpinan”

Oleh: Arniyaty Amin (Penggiat Literasi di Makassar) Judul: Leadership dan Kepemimpinan Penulis: 1....

Mohammad Zain; Dari Clean Table hingga Pertengkaran Intelektual

Oleh: Abd Rahman Hamid (Wakil Dekan I Fakultas Adab...

Kue Minyak, Jajanan Tradisional Mandar yang Tetap Bertahan

Tomandar, - Kue minyak merupakan salah satu kuliner tradisional...