Merekam Karya, Merawat Budaya

Merekam Karya, Merawat Budaya

TANAH MANDAR: LITA’ PEMBOLONGAN

Tanggal:

By Asriaty Alda Zain

Ketua Umum BPP KWMSB

Selama ini, sebagian masyarakat masih memandang “Mandar” dalam arti yang sangat sempit, yaitu hanya merujuk pada suku Mandar atau orang yang menggunakan bahasa Mandar. Akibatnya, ketika mendengar nama organisasi seperti Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) atau Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (KWMSB), muncul anggapan bahwa organisasi tersebut hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berasal dari suku Mandar saja.

Padahal, jika dilihat dari sejarah, budaya, dan pembentukan wilayah Sulawesi Barat, pengertian “Mandar” tidak hanya berbicara tentang satu suku, tetapi juga tentang sebuah kawasan peradaban, ruang kebudayaan, dan ikatan sosial masyarakat Sulawesi Barat.

Secara etnis, suku Mandar memiliki bahasa, adat, dan tradisi tersendiri. Namun dalam perkembangan sejarahnya, istilah “Mandar” berkembang menjadi identitas kawasan yang lebih luas, yang hari ini menjadi bagian dari Sulawesi Barat.

Di Provinsi Sulawesi Barat terdapat beberapa suku yang berkembang sejak lama, baik suku asli maupun masyarakat pendatang. Secara umum, suku-suku asli yang dikenal di Sulawesi Barat antara lain:

  •  Suku Mandar

Suku Mandar adalah suku terbesar dan paling dominan di Sulawesi Barat. Mandar bukan hanya dipahami sebagai identitas suku, tetapi juga sebagai ruang budaya besar yang membentuk sejarah, adat, bahasa, pelayaran, seni, dan kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Barat.

Masyarakat Mandar dikenal sebagai pelaut, pedagang, masyarakat pesisir, serta penjaga tradisi kebudayaan yang kuat. Suku Mandar tersebar di wilayah Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju bagian pesisir, Balanipa, Campalagian, Sendana, Pamboang, Malunda hingga sebagian wilayah Mamasa.

Seni dan budaya Mandar dikenal melalui sayyang pattu’du, kalinda’da, marrawana, perahu sandeq, dan tenun Mandar/lipa sa’be. Nilai dan filosofi hidup Mandar antara lain Sipamandar, Malaqbi’, dan Lita Pembolongan.

  • Suku Mamasa

Suku Mamasa banyak mendiami wilayah pegunungan dan memiliki kedekatan budaya dengan Toraja, terutama dalam bentuk rumah adat dan upacara adat.

Wilayah Kabupaten Mamasa terdiri atas beberapa kecamatan, antara lain: Mamasa, Mambi, Aralle, Tabulahan, Rantebulahan Timur, Tawalian, Sumarorong, Messawa, Nosu, Pana, Bambang, Balla, Tanduk Kalua, Sesenapadang, dan Mehalaan.

Wilayah-wilayah tersebut membentuk kawasan budaya pegunungan yang saling terhubung melalui sejarah adat, bahasa, dan hubungan kekerabatan masyarakat.

Mamasa bukan hanya dikenal sebagai wilayah pegunungan yang indah, tetapi juga sebagai ruang budaya yang menjaga adat, kekeluargaan, dan seni tradisional. Budaya adat Mamasa masih sangat kuat dalam pernikahan, syukuran, pesta panen, dan upacara kematian.

Perempuan Mamasa dikenal memiliki tradisi menenun kain adat dengan beragam motif yang terinspirasi dari alam pegunungan, kehidupan masyarakat, simbol adat, dan nilai spiritual budaya Mamasa.

Suku Pattae

Suku Pattae merupakan kelompok masyarakat yang hidup di wilayah pegunungan dan perbatasan Polewali Mandar–Mamasa.

Wilayah masyarakat Pattae umumnya berada di Kecamatan Bulo, Kecamatan Matangnga, sebagian wilayah pegunungan Polewali Mandar, serta perbatasan Mamasa bagian selatan.

Masyarakatnya hidup dalam budaya agraris dan pegunungan. Mereka dikenal menjaga hubungan sosial yang erat sehingga budaya kebersamaan masih sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Suku Pannei/Panneiang

Suku Pannei atau Panneiang merupakan kelompok masyarakat yang berada di wilayah pedalaman Sulawesi Barat, khususnya di Kecamatan Mapilli dan beberapa daerah perbukitan di Kabupaten Polewali Mandar.

Wilayah yang dikenal sebagai daerah penutur bahasa dan komunitas Pannei antara lain Pullulundung, Tondok Ratte, Sikka, Seppong, dan Baruangin.

Daerah-daerah tersebut berada di kawasan perbukitan dan menjadi wilayah pertemuan budaya antara masyarakat Mandar pesisir dan masyarakat pegunungan.

Suku Kalumpang

Suku Kalumpang merupakan salah satu kelompok masyarakat tua yang berada di wilayah pegunungan dan pedalaman Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Mamuju.

Masyarakat Kalumpang memiliki warisan budaya tua serta bahasa lokal sendiri. Tenun Sekomandi berasal dari wilayah masyarakat Kalumpang dan dikenal sebagai salah satu tenun tertua di Sulawesi Barat, bahkan diyakini telah berusia ratusan tahun.

Pusat tenun ini banyak ditemukan di Kecamatan Kalumpang, Kecamatan Bonehau, Desa Karataun, Desa Hinua, dan Desa Kondo Bulo.

Secara wilayah, masyarakat Kalumpang banyak bermukim di Kecamatan Kalumpang, daerah Karataun, Bonehau, dan beberapa wilayah pedalaman di sekitar Sungai Karama.

Wilayah Kalumpang juga dikenal sebagai salah satu pusat temuan peninggalan megalitik, batu ritual, artefak kuno, dan situs arkeologi penting di Sulawesi. Hal ini menunjukkan bahwa Kalumpang tidak hanya penting sebagai identitas etnis, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan kekayaan budaya tua di Sulawesi Barat.

Suku Mamuju

Suku Mamuju adalah masyarakat asli wilayah Mamuju yang banyak mendiami daerah pesisir, sungai, dan pegunungan di Kabupaten Mamuju.

Budayanya terbentuk dari perpaduan kehidupan maritim, pertanian, dan perdagangan. Wilayah persebarannya meliputi Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, dan sebagian wilayah pesisir serta pedalaman Sulawesi Barat.

Karena sejak lama menjadi jalur perdagangan dan pusat pemerintahan, wilayah Mamuju menjadi tempat pertemuan berbagai suku seperti Mandar, Bugis, Jawa, Kalumpang, dan kelompok lainnya.

Selain suku-suku asli tersebut, Sulawesi Barat juga dihuni oleh banyak masyarakat pendatang yang telah lama menetap dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial daerah, seperti:

  • Suku Bugis yang telah lama berbaur dalam kehidupan sosial Sulawesi Barat,
  • Suku Makassar,
  • Suku Jawa, terutama di kawasan, transmigrasi seperti Wonomulyo dan beberapa wilayah di Mamuju,
  • Suku Bali,
  • Suku Toraja,
  • Suku Sunda, dan lainnya.

Karena itu, ketika berbicara tentang “Mandar Sulawesi Barat”, maka maknanya tidak seharusnya dipersempit hanya pada identitas kesukuan Mandar, melainkan sebagai identitas kolektif dan rumah bersama yang dibangun oleh keberagaman budaya, bahasa, dan sejarah hidup masyarakat Sulawesi Barat.

“Mandar” dalam konteks organisasi dan kehidupan sosial tidak hanya dipahami sebagai identitas darah atau keturunan, tetapi sebagai ruang kebersamaan, rumah budaya, dan ikatan persaudaraan bagi siapa saja yang hidup, tumbuh, dan memiliki kecintaan terhadap Sulawesi Barat.

Dengan pengertian ini, maka orang Mandar tetap memiliki identitas budayanya, suku-suku lain di Sulawesi Barat dan masyarakat pendatang yang telah lama menetap memiliki ruang dan merasa memiliki sebagai satu keluarga besar Sulawesi Barat.

Karena hakikat sebuah keluarga besar bukan hanya soal kesamaan suku, tetapi tentang rasa memiliki, keterikatan, dan kebersamaan dalam membangun kehidupan bersama.

Organisasi kekeluargaan seperti KKMSB dan KWMSB hadir untuk merangkul seluruh elemen masyarakat yang memiliki hubungan sosial dan emosional dengan Sulawesi Barat.

Kata “Mandar” dalam organisasi ini, jika dipahami sebagai payung kebersamaan masyarakat Sulawesi Barat, akan menjadikan organisasi lebih inklusif, kuat, dan diterima oleh semua kalangan.

Karena itu, organisasi KKMSB maupun KWMSB harus menjadi tempat untuk:

  • memperkuat persaudaraan,
  • menjaga keberagaman budaya,
  • membangun solidaritas sosial,
  • serta merawat identitas Sulawesi Barat secara bersama-sama.

Pada akhirnya, Sulawesi Barat dibangun bukan hanya oleh satu suku, tetapi oleh banyak kelompok masyarakat yang hidup berdampingan selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Karena “Mandar” hari ini bukan hanya tentang darah dan keturunan, tetapi juga tentang siapa saja yang tumbuh, hidup berdampingan, dan ikut merawat Tanah Sipamandar sebagai rumah bersama.

Wallahu A‘lam Bis-shawab.

Bagikan di:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer di Baca

Postingan Lainnya
Related

BPW KWMSB Sulsel Bagikan Daging Kurban untuk keluarga Prasejahtera di Makassar

MAKASSAR – Mengisi momentum Hari Raya Iduladha tahun 1447...

Bagikan 300 Kantong Daging Kurban, KKMSB, KWMSB dan Baznas RI Bekerjasama

JAKARTA UTARA, Tomandar — Kerukunan Keluarga Mandar (KKMSB) dan...

KKMSB, KWMSB, dan Baznas RI Salurkan Daging Kurban Untuk Warga Mandar di Penjaringan

JAKARTA UTARA, Tomandar — Kerukunan Keluarga Mandar (KKMSB), Kerukunan...