Oleh: Dr. Muhammad Zain
(Kepala Biro SDM Kemenag RI)
Jemaah Jumat Masjid Al-Kautsar yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Ketakwaan tidak berada di lisan, taqwa bersemayam dalam hati danm memancar dalam perilaku, akhlak, dan kemanfaatan kita bagi sesama.
At-Taqwa ha huna (di hati) laa ha huna (lisan).
Syekh Yusuf al-Makassari pernah mengungkapkan sebuah hikmah yang sangat mendalam:
“Inti ajaran agama adalah ma’rifatullah, dan inti ma’rifatullah adalah silaturahim.”
Ungkapan ini mengajarkan bahwa semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin lembut akhlaknya, semakin luas kasih sayangnya, dan semakin besar manfaat yang ia berikan kepada sesama. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda:
“Khairunnas anfa’uhum linnas.”
Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya.
Jemaah yang dimuliakan Allah
Hari ini adalah nikmat yang patut kita syukuri. Allah masih mempertemukan kita dengan hari Jumat dalam keadaan sehat walafiat, beriman, dan berislam. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar sehat?
Beberapa tahun yang lalu, tahun 2018 saya berkesempatan menghadiri Festival Jalaluddin Rumi di Kota Konya, Turki. Seorang ulama menyampaikan penjelasan yang sangat menyentuh tentang makna sehat walafiat. Beliau berkata bahwa ada orang yang sehat, tetapi tidak afiat. Sebaliknya, ada orang yang afiat, tetapi secara lahir tampak tidak sehat.
Beliau menjelaskan bahwa sehat bukan sekadar tubuh yang kuat atau fisik yang bugar. Sehat yang sejati adalah keselarasan antara jasmani dan rohani. Tubuh yang sehat memudahkan seseorang menjalani kehidupan, tetapi hati yang sehat menuntunnya menemukan jalan menuju Allah.
Karena itu, orang yang sesungguhnya sakit bukan hanya mereka yang terbaring di rumah sakit. Penyakit yang paling berbahaya adalah ketika hati kehilangan arah, ketika jiwa tersesat, dan ketika seseorang tidak lagi menemukan jalan menuju Tuhannya. Itulah sakit yang paling dalam dan paling menyedihkan.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa hati kita masih sehat?
Salah satu ukurannya adalah kepekaan hati.
Apabila azan berkumandang tetapi hati tidak lagi tergerak untuk memenuhi panggilan Allah, maka itu adalah tanda bahwa hati mulai melemah.
Apabila nasihat agama, majelis ilmu, dan kata-kata hikmah tidak lagi menyentuh jiwa, bahkan terasa membosankan, maka itulah pertanda bahwa ruhani sedang kehilangan cahayanya.
Apabila lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak lagi menghadirkan kerinduan dan ketenangan, maka kita perlu segera bermuhasabah. Jangan-jangan kita sedang menjauh dari poros ketuhanan.
Inilah penyakit yang harus lebih kita khawatirkan daripada penyakit jasmani. Sebab flu, demam, atau penyakit fisik dapat disembuhkan oleh obat. Tetapi hati yang mati hanya dapat dihidupkan kembali dengan iman, zikir, Al-Qur’an, dan kedekatan kepada Allah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Manusia diciptakan dengan dua dimensi: jasmani dan rohani. Kita tidak pernah lupa memberi makan tubuh. Setiap pagi kita sarapan, siang kita makan, malam kita kembali memenuhi kebutuhan nutrisi jasmani. Semua itu baik dan memang diperlukan. Namun, sering kali kita lupa bahwa ruhani pun membutuhkan makanan. Jiwa juga memerlukan asupan agar tetap hidup, sehat dan kuat.
Karena itulah Allah mensyariatkan salat, puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dan sebagai nutrisi bagi jiwa. Sebab kelak yang kembali menghadap Allah bukanlah tubuh kita. Jasad akan kembali menjadi tanah, sedangkan ruh akan kembali kepada Sang Pencipta (Innalillahi wa inna ilaihi rajiun). Maka, jangan sampai kita memiliki tubuh yang sehat tetapi hati yang sakit.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Izinkan saya menyampaikan sebuah kisah.
Seorang sahabat saya, tokoh nasional yang sangat dikenal masyarakat, suatu ketika menunaikan ibadah haji mandiri. Sebelumnya beliau telah berhaji bersama keluarga. Kali ini beliau ingin lebih khusyuk, memperbanyak ibadah sunnah, berdoa, dan menyempurnakan seluruh rangkaian rukun dan wajib haji.
Usai menyelesaikan tawaf, beliau duduk di pelataran Masjidil Haram. Tiba-tiba beliau menyadari bahwa dompetnya hilang. Di dalamnya terdapat uang, kartu identitas, pasport, dan visa haji, ATM, dan dokumen penting lainnya. Kegelisahan pun memenuhi pikirannya.
Bagaimana mungkin seseorang kehilangan identitas di tengah jutaan manusia?
Di tengah kegelisahan itu, lahirlah sebuah kesadaran yang sangat mendalam.
Beliau berkata:
“Ternyata menuju Allah tidak mengharuskan kita meninggalkan kehidupan. Mencari Tuhan bukan berarti mengabaikan keluarga, melupakan tanggung jawab sosial, atau memutus hubungan dengan sesama.”
Allah tidak menghendaki seorang hamba yang tekun beribadah kepada-Nya, tetapi lalai terhadap amanah yang dititipkan-Nya.
Spiritualitas yang sejati justru tampak ketika seseorang semakin dekat kepada Allah sekaligus semakin peduli kepada manusia.
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Peristiwa Isra Mikraj memberikan pelajaran yang sangat agung. Rasulullah ﷺ mencapai Sidratul Muntaha, tempat yang tidak pernah dicapai makhluk lain. Sebagian ulama bahkan menggambarkannya sebagai maqam spiritual yang melampaui segala kenikmatan dunia.
Namun Rasulullah tidak menetap di sana.
Beliau kembali ke bumi. Mengapa?
Karena misi beliau bukan menikmati kedekatan personal dengan Allah semata, melainkan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Bahkan menjelang wafatnya, kalimat yang keluar dari lisan beliau bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan:
“Ummati… ummati… ummati…”
Umatku… Umatku… Umatku…
Betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya.
Jemaah yang berbahagia,
Dari seluruh uraian ini kita belajar bahwa ukuran kedekatan kepada Allah tidak diukur hanya panjangnya sujud atau banyaknya ibadah ritual. Ukurannya juga tampak pada keluasan kasih sayang, tanggung jawab kepada keluarga, kepedulian terhadap masyarakat, dan besarnya manfaat yang kita hadirkan bagi sesama.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah:177
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; serta bersabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Sekali lagi, semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia kepada orang lain. Semakin dekat kepada Allah, semakin dekat pula kepada manusia.
Semakin mengenal Tuhan, semakin besar khidmatnya kepada sesama.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sehat jasmani, sehat rohani, kuat ibadahnya, lembut akhlaknya, serta menjadi manusia yang membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Disampaikan di Masjid Al-Kautsar, Polda Metro Jaya, Jakarta, Jum’at, 31 Juli 2026.


