Merekam Karya, Merawat Budaya

Merekam Karya, Merawat Budaya

Membangun Keluarga Tangguh di Tengah Paradoks Zaman Modern: Refleksi dari Seminar Psikologi KWMSB

Tanggal:

Polewali Mandar, Tomandar—Dimulai dengan satu pertanyaan mendasar, dan itu menjadi benang merah seluruh diskusi: “Mengapa sebagian keluarga mampu bertahan menghadapi krisis, sementara yang lain justru rapuh?

Mari kita mencoba untuk mengulik pertanyaan itu satu-persatu.

Paradoks Kemajuan: Makin Maju, Makin Cemas

Kita membuka sorotan atas tiga paradoks zaman modern yang menjadi keresahan bersama.

  1. Ekonomi membaik namun kebahagiaan tidak ikut meningkat
  2. Teknologi kian canggih namun kecemasan warga justru bertambah dan
  3. pendidikan kian tinggi namun konflik dalam keluarga tak kunjung mereda.

Data dari World Happiness Report menegaskan bahwa negara dengan pendapatan domestik bruto (GDP) tinggi belum tentu menjadi yang paling bahagia. Sebaliknya, tren kesepian, gangguan kesehatan mental, dan konflik keluarga justru menunjukkan kecenderungan meningkat di berbagai belahan dunia.

Pesannya jelas: kesejahteraan sejati tidak hanya soal angka materi.

Fenomena ini semakin nyata jika dibandingkan dengan pola hidup generasi terdahulu. Dulu, meski teknologi terbatas, hubungan sosial dan emosional antarwarga justru sangat kuat — tercermin dalam nilai budaya Mandar “Sibaliparri‘”. Kini, meski teknologi melimpah ruah, koneksi emosional antarmanusia justru menurun drastis.

Kondisi inilah yang digambarkan sebagai keadaan “terkoneksi secara digital, namun terputus secara emosional”.

Kesehatan Bukan Sekadar Bebas dari Penyakit

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pergeseran paradigma kesehatan manusia, dari model biomedis semata menuju model Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (BPSS). Menurut model ini, manusia bukan hanya tubuh biologis, melainkan kesatuan utuh antara kondisi fisik, kondisi pikiran, hubungan sosial, dan makna spiritual.

Sejalan dengan itu, kesejahteraan (well-being) juga ditegaskan bukan sekadar soal kekayaan materi, jabatan, atau popularitas — melainkan tentang memiliki hidup yang bermakna, relasi sosial yang sehat, pikiran yang jernih, serta kemampuan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.

Keluarga: “Pabrik” Utama Kebahagiaan

Salah satu temuan yang paling ditekankan dalam seminar adalah hasil Studi Epik Harvard (Harvard Study of Adult Development) yang telah berlangsung selama 85 tahun. Studi jangka panjang ini menyimpulkan secara tegas bahwa faktor terbesar penentu kebahagiaan dan kesehatan seseorang bukanlah uang, melainkan kualitas hubungan — terutama relasi dalam segitiga keluarga: orang tua, anak, dan pasangan.

Untuk memahami mengapa sebagian keluarga bisa runtuh oleh tekanan sementara yang lain bertahan, seminar ini memetakan konsep “stressor” atau sumber tekanan yang datang dari empat arah sekaligus: tekanan fisik (kelelahan, kurang tidur), tekanan psikologis (kecemasan, krisis identitas), tekanan sosial (konflik interpersonal, isolasi), hingga tekanan organisasional (beban kerja, ketidakpastian karier).

Secara ilmiah dijelaskan pula bagaimana otak merespons tekanan tersebut: stressor memicu alarm di amigdala, memicu banjir hormon kortisol, hingga akhirnya memunculkan respons bertahan hidup berupa fight (melawan), flight (lari), atau freeze (membeku).

Resiliensi: Kunci untuk Bangkit, Bukan Sekadar Bertahan

Menjawab persoalan tersebut, konsep resiliensi menjadi kunci. Resiliensi didefinisikan bukan sebagai kondisi tidak pernah jatuh atau retak, melainkan kemampuan esensial untuk bangkit dan merakit kembali diri setelah menghadapi kesulitan — diibaratkan seperti seni kintsugi, memperbaiki mangkuk pecah dengan sambungan emas yang justru membuatnya semakin indah dan bernilai.

Formula ketangguhan manusia yang ditawarkan adalah kombinasi antara tantangan yang dihadapi (adversity), pencarian makna (meaning), dan sistem dukungan (support system) yang kokoh.

Empat pilar utama yang menopang keluarga tangguh mesti difahami, yaitu:

  1. Komunikasi terbuka sebagai ruang aman untuk berpendapat tanpa penghakiman,
  2. Saling percaya sebagai fondasi keamanan emosional,
  3. Fleksibilitas peran saat krisis melanda 
  4. Spiritualitas yang kuat sebagai jangkar moral dan harapan keluarga

Pendidikan Adaptif dan Peran Strategis Ibu

Pergeseran zaman dari era pertanian, era industri, era informasi, hingga kini memasuki era kecerdasan buatan (AI) yang disebut penuh disrupsi eksponensial. Pertanyaan reflektif pun diajukan: apakah sekolah hari ini benar-benar mempersiapkan anak untuk masa depan, atau justru masih mempersiapkan mereka untuk masa lalu?

Paradigma pendidikan tradisional yang berfokus pada hafalan dan kepatuhan dinilai perlu bergeser menuju pendidikan adaptif yang menitikberatkan pada kelenturan kognitif, kemampuan berpikir, analisis, dan inovasi.

Dalam konteks ini, peran ibu ditegaskan sebagai poros pendidikan yang sejati — bukan hanya sebagai pendidik pertama yang meletakkan fondasi kognitif anak sebelum memasuki pendidikan formal, tetapi juga sebagai pelatih kecerdasan emosional (emotional coach) dan pembentuk karakter di tengah gempuran arus digital.

Ditegaskan pula bahwa di tengah derasnya pengaruh AI, rumah tetap menjadi “sekolah kecerdasan emosional (EQ)” pertama bagi setiap anak.

Kebijakan Publik Harus Berperspektif Psikologis

Pada bagian akhir, seminar Psikologi oleh BPP-KWMSB ini juga menyoroti pentingnya kebijakan publik yang berkeadilan dan berbasis kajian psikologis. Prinsip kebijakan yang ideal digambarkan sebagai kanopi pelindung yang bertumpu pada empat lapis nilai, yaitu:

  1. Inklusif bagi semua lapisan masyarakat,
  2. Sensitif gender
  3. Berbasis data yang terukur,
  4. Berpihak pada manusia dengan kesejahteraan psikologis sebagai tujuan akhir.

Salah satu gagasan inovatif yang diusulkan adalah penerapan Psychological Impact Assessment — sebuah kajian dampak psikologis atas suatu kebijakan sebelum disahkan, sebagaimana halnya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang lebih dulu dikenal luas dalam kebijakan lingkungan hidup.

Ditegaskan bahwa keadilan bukan sekadar soal distribusi sumber daya secara merata, melainkan pemenuhan rasa dihargai, didengar, dan diperlakukan adil tanpa diskriminasi sistemik bagi setiap warga.

Perempuan Mandar sebagai Agen Perubahan

Seminar ini turut menyampaikan pesan khusus bagi perempuan Mandar, yang disebut bukan sekadar pengurus rumah tangga yang pasif, melainkan jantung dari ekosistem nilai Sibaliparri‘ — sebagai pendidik generasi yang meletakkan fondasi psikologis anak, penjaga budaya yang merawat nilai luhur saling menopang, sekaligus agen perubahan sosial yang menggerakkan komunitas.

Perubahan besar bagi sebuah bangsa dapat dimulai dari titik terdekat: satu keluarga, satu anak, hingga menjalar menjadi satu komunitas yang lebih kuat.

Rekomendasi Kebijakan

Seminar ini merumuskan sejumlah rekomendasi kebijakan yang terbagi dalam dua kelompok besar.

  1. Pada aspek fondasi ketahanan individu dan keluarga, direkomendasikan penguatan kesejahteraan keluarga berbasis komunitas melalui pengasuhan positif dan integrasi pendidikan adaptif dan literasi digital untuk memperkuat resiliensi siswa, Penguatan peran perempuan sebagai agen kesejahteraan strategis dalam perlindungan anak, pencegahan stunting, dan penguatan ekonomi keluarga.
  2. Sementara pada aspek sistem kebijakan dan kekuatan budaya, direkomendasikan perumusan kebijakan publik berbasis perspektif psikologis, revitalisasi nilai budaya lokal Sibaliparri’ sebagai fondasi solidaritas dan karakter, hingga kesimpulan besar bahwa ekonomi, keluarga, pendidikan, dan kebijakan harus bersinergi demi terwujudnya martabat manusia yang utuh.

“Kesejahteraan masyarakat tidak lahir dari gedung-gedung yang megah, tetapi dari keluarga yang sehat, pendidikan yang adaptif, dan kebijakan yang berkeadilan.” kata Prof. Jufri.

Pesan ini menegaskan bahwa upaya membangun masyarakat yang sejahtera pada akhirnya kembali pada unit terkecil namun paling fundamental dalam kehidupan sosial: keluarga. Sebuah keluarga yang tangguh secara psikologis diyakini akan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang kuat, komunitas yang solid, dan pada akhirnya bangsa yang berkeadilan.

______________

Disarikan dari materi Seminar Psikologi untuk Kesejahteraan Masyarakat oleh Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., M.Psi., Psikolog. (Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan).

Diselenggarakan oleh Badan Pengurus Pusat Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (BPP-KWMSB), di Ruang Pola Kantor Bupati Polewali Mandar, Senin, 6 Juli 2026***

Bagikan di:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer di Baca

Postingan Lainnya
Related

Khutbah Jumat: Sehat Wal’afiat, Khidmat Kepada Sesama dan Jalan Menuju Allah

Oleh: Dr. Muhammad Zain (Kepala Biro SDM Kemenag RI) Jemaah Jumat...

Silaturahmi ke Mahasiswa Sulbar, Asriaty: Bangun Kapasitas, Kembali Membangun Daerah

Jakarta, Tomandar – Ketua Umum BPP-KWMSB, Dr. Asriaty bersama...

Kunjungi Asrama Mahasiswa, Ketum KKMSB: Bangun Keilmuan dan Perkuat Jejaring Sehat

Jakarta, Tomandar — Semangat membangun Sulawesi Barat, selain bertumpu...

Seminar Psikologi, Senam Sehat, Beauty Class, dan Kreasi Jepa Modern dalam Satu Rangkaian

Polewali Mandar, Tomandar — Badan Pengurus Pusat Kerukunan Wanita...