By Asriaty Alda Zain
(Ketua Umum BPP-KWMSB)
Pagi ini saya menemukan sebuah tulisan menarik di rubrik “Sejarah Ulama”. Tulisan yang sederhana, namun begitu dalam maknanya. Bukan sekadar untuk dibaca, tetapi juga menjadi bahan muhasabah diri, pengingat tentang bagaimana seharusnya manusia menjaga ucapan, merendahkan ego, dan menghadirkan ketenangan dalam setiap perkataan.
Kadang kita terlalu sibuk ingin didengar, hingga lupa bahwa kata-kata juga dapat melukai. Padahal, manusia yang benar-benar bijak bukanlah mereka yang paling keras suaranya, melainkan mereka yang mampu menghadirkan makna dan keteduhan dalam setiap ucapannya.
Saya mencoba meringkas tulisan tersebut: Banyak manusia merasa harus berbicara keras agar dianggap kuat dan didengar. Padahal, suara yang keras tidak selalu memiliki makna. Petir hanya menggelegar sesaat, sedangkan hujan turun dengan tenang namun mampu menumbuhkan kehidupan. Dari situ kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam kebisingan, tetapi dalam ketenangan yang menyentuh hati.
Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena cara menyampaikannya. Ketika ego lebih besar daripada kesadaran, percakapan berubah menjadi ajang saling mengalahkan. Padahal, tujuan komunikasi bukan membuat orang lain tunduk, tetapi saling memahami.
Kebenaran tidak selalu membutuhkan suara tinggi. Kata-kata yang lembut justru lebih mudah diterima, karena manusia lebih terbuka pada ketenangan daripada tekanan. Orang bijak tidak sibuk terlihat dominan, tetapi fokus agar ucapannya membawa manfaat dan kesadaran.
Kedewasaan terlihat dari cara seseorang menjaga lisannya saat marah, kecewa, atau berbeda pendapat. Sebab manusia lebih mudah mengingat rasa yang ditinggalkan sebuah ucapan daripada isi perkataannya sendiri.
Kata-kata bisa menjadi luka, tetapi juga bisa menjadi penyembuh. Orang yang benar-benar kuat tidak membutuhkan bentakan atau intimidasi untuk dihormati. Ketegasan sejati hadir tanpa merendahkan orang lain.
Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena kerasnya suara, tetapi karena bagaimana ucapannya membuat orang lain merasa. Sebab dunia sudah terlalu penuh dengan kebisingan, dan yang paling dibutuhkan manusia adalah kata-kata yang menenangkan tanpa kehilangan makna.
Tulisan ini seakan menjadi pengingat bahwa dalam hidup, tidak semua hal harus disampaikan dengan amarah dan kebisingan. Ada ketenangan yang justru lebih mampu menyentuh hati dan menumbuhkan kesadaran.
Renungkan, ketika kita berbicara kepada orang lain, apakah kata-kata yang kita ucapkan lebih sering menjadi petir yang menakutkan, atau hujan yang diam-diam menumbuhkan kehidupan di hati mereka?
Wallahu A’lam bis-shawab


