Tomandar, — Badan Pengurus Pusat Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (BPP-KWMSB) kembali menggelar diskusi sufistik melalui webinar pada Ahad (15/3/2026). Mengangkat tema “Rindu dan Derita: Membaca Jalaluddin Rumi di Era Keterasingan”, kegiatan ini diikuti hampir 500 peserta dari berbagai daerah.
Ketua Umum BPP KWMSB, Asriaty Alda Zain mengatakan, diskusi ini sengaja digelar di tengah hiruk-pikuk ruang digital yang semakin bising. KWMSB, kata Asriaty, berupaya menghadirkan ruang refleksi untuk menyelami kembali pemikiran sufistik Jalaluddin Rumi, penyair mistik Persia abad ke-13.
“Gagasan sufistik Jalaluddin Rumi tetap relevan dengan kondisi manusia modern,” ungkap Asriaty, yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah DPK PTIQ Jakarta ini.
Ia menambahkan, dalam diskusi ini menghadirkan dua narasumber sebagai pengkaji sekaligus pencinta karya-karya Rumi, yakni Kepala Biro SDM Kementerian Agama RI sekaligus Ketua Umum BPP KKMSB, Muhammad Zain serta Direktur Rumi Institute dan penerjemah Kitab Matsnawi dari bahasa Persia, Ustadz Muhammad Nur Jabir.
Lebih jauh Asriaty menyampaikan, diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian program Ramadan yang diselenggarakan BPP KWMSB. Hal itu dilakukan dalam upaya memperkaya refleksi intelektual dan spiritual di bulan suci Ramadan. “Ini juga menjadi momen mengajak kepada semua pihak untuk tidak memperbanyak ibadah ritual semata,” ungkapnya.
Melalui diskusi ini, lanjut Asriaty, KWMSB berharap dapat kembali menemukan relevansi nilai-nilai sufisme—sebuah tradisi kebijaksanaan yang, di tengah kegaduhan zaman modern, justru semakin dibutuhkan. “Rumi mengajarkan bahwa derita dan kerinduan adalah jalan manusia untuk kembali menemukan makna hidup serta kedekatan dengan Tuhan,” terangnya.
Seruling Bambu dan Manusia Digital
Sementara itu, Ketua Umum BPP KKMSB, Muhammad Zain dalam pemaparannya mengurai tiga kata kunci utama dalam pemikiran Rumi. Cinta, rindu, dan derita. Menurutnya, dalam tradisi tasawuf rindu bukan sekadar emosi, melainkan energi spiritual yang mendorong manusia kembali kepada asalnya.
Ia kemudian mengangkat metafora terkenal Rumi tentang seruling bambu (nei) yang meratap karena terpisah dari rumpunnya. “Manusia digital hari ini seperti seruling. Ia berbunyi, berbicara, bahkan sangat bising di ruang digital—namun sesungguhnya sedang merintih karena kehilangan akar maknanya,” ujar Zain.
Menurutnya, di tengah arus media sosial yang penuh kebisingan, manusia justru mengalami kesunyian batin yang semakin dalam.
Derita sebagai Jendela, Bukan Tembok
Dalam kesempatan sama, Ustadz Muhammad Nur Jabir memperdalam diskusi dengan perspektif teologis yang lebih personal. Ia menjelaskan bahwa cinta, rindu, dan derita dalam pemikiran Rumi bermuara pada hubungan manusia dengan Allah.
Menurutnya, manusia berasal dari Yang Satu, lalu menjalani kehidupan dunia dalam keadaan terpisah dan merasakan kerinduan yang terus mendorongnya kembali kepada Sang Pencipta.
“Kenapa ada derita? Karena manusia sedang berjarak dan berjalan menuju Penciptanya. Yang berjalan adalah dimensi ruh, bukan fisik,” tuturnya, sambil mengutip QS Al-Fajr ayat 27–28.
Ia menggambarkan dualitas dalam diri manusia, yakni jiwa yang merindu kepada Tuhan dan fisik yang sering tertarik pada kenikmatan dunia. Kondisi ini melahirkan apa yang ia sebut sebagai derita eksistensial—misalnya rasa berat dan kantuk ketika seseorang diajak beribadah.
Namun demikian, derita bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Mengutip ungkapan Jalaluddin Rumi dalam bahasa Persia, ia mengatakan:
“Ranj panjereh-i ast ke nur az an be darun mi-âyad, yang berarti derita adalah jendela tempat cahaya masuk ke dalam,” papar Muhammad Nur Jabir.
Ia juga menjelaskan, tanpa luka dan kegelisahan, hati manusia sering kali terlelap dalam kenyamanan duniawi. Lebih jauh Nur Jabir menafsirkan ayat Wasta‘inû bi al-shabri wa al-shalâh sebagai isyarat bahwa kesabaran—yang sering kali berwujud derita—menjadi pintu sebelum seseorang mampu mendekat kepada Tuhan.
“Dari sanalah derita perlahan berubah menjadi cinta. Ibadah yang lahir dari cinta tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan jiwa,” ujarnya.(*)


