Oleh: M. Abid. Alimuddin Lidda
(Akademisi)
Menjelang magrib di Polewali Mandar, kawasan Pasar Sentral Pekkabata berubah menjadi ruang paling hidup di kota ini. Sejak pukul 14.00 Wita, warga mulai memadati kompleks pasar untuk berburu hidangan berbuka. Aneka makanan tersaji lengkap—mulai dari jalangkote, bakwan, tahu isi, hingga ikan cepak bakar bumbu cemangi, bau peapi, paria kambu, nasu palekko, dan berbagai kue tradisional seperti sanggara balanda serta katiri sala.
Pasar Ramadan Pekkabata bukan sekadar tempat jual beli. Ia telah menjadi destinasi kuliner musiman yang selalu dinanti. Warga bahkan rela datang dari jarak cukup jauh demi mendapatkan cita rasa autentik khas Mandar untuk berbuka bersama keluarga. Di sinilah pasar takjil tidak lagi hanya menjadi ruang ekonomi, melainkan ruang sosial yang sarat makna.
Pasar takjil di Polewali Mandar merupakan arena komunikasi sosial yang mereproduksi solidaritas dan identitas budaya Mandar, namun sekaligus memperlihatkan paradoks konsumsi yang menantang makna spiritual Ramadan sebagai latihan pengendalian diri.
Ruang publik yang paling efektif sering kali bukan yang formal, melainkan yang tumbuh dari praktik keseharian warga. Pasar adalah contohnya. Di sana orang bertemu tanpa agenda resmi, berbincang tanpa protokol, dan membangun kesepahaman melalui interaksi sederhana.
Pasar takjil Pekkabata menjalankan fungsi itu secara organik. Sapaan seperti, “Leppangmi tau… singgaki, mampir sebentar,” bukan sekadar strategi dagang. Ia adalah bentuk pengakuan sosial. Seseorang yang disapa merasa dihadirkan sebagai bagian dari komunitas. Dalam interaksi singkat itu, makna sosial diproduksi melalui simbol—sapaan, senyum, dan keakraban yang dimaknai bersama.
Percakapan ringan seperti “Sehat-sehatjiki?” atau “Ramai sekali hari ini di?” mungkin terdengar biasa. Namun justru melalui repetisi itulah relasi sosial dipelihara. Solidaritas lahir dari praktik yang diulang dan dirawat, bukan dari slogan. Setiap Ramadan, pola interaksi ini dihidupkan kembali, memperkuat memori kolektif dan identitas sosial masyarakat Mandar. Pasar takjil menjadi ruang di mana warga saling melihat dan dilihat, saling mengakui keberadaan satu sama lain. Ia adalah panggung sosial tempat kebersamaan dipertunjukkan sekaligus dirasakan.
Menariknya, berita tentang pasar takjil Pekkabata menunjukkan bahwa banyak pengunjung sengaja datang untuk mencari makanan tradisional Mandar karena menghadirkan “sensasi tersendiri saat berbuka dengan menu khas daerah.” Pernyataan ini penting. Ini menunjukkan bahwa konsumsi di pasar takjil bukan semata soal mengenyangkan perut, tetapi juga praktik afirmasi identitas budaya.
Makanan di sini berfungsi sebagai simbol. Jalangkote, bau peapi, atau nasu palekko tidak hanya dipilih karena rasa, tetapi karena ia merepresentasikan keterikatan dengan tradisi lokal. Dalam perspektif sosiologi budaya, konsumsi semacam ini adalah bentuk reproduksi identitas kolektif. Melalui pilihan makanan, warga menegaskan siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Di meja berbuka, simbol itu berlanjut. Makanan menjadi medium komunikasi keluarga. Anak belajar berbagi ketika gorengan dibagi rata. Orang tua menceritakan pengalaman masa lalu tentang Ramadan. Percakapan mengalir, relasi diperkuat. Praktik berbuka bersama berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial. Dalam konteks ini, pasar takjil tidak dapat direduksi sebagai gejala konsumtif belaka. Ia adalah ruang komunikasi sosial sekaligus ruang produksi makna budaya.
Pasar takjil juga memiliki dimensi ekonomi yang signifikan. Banyak pedagang telah berjualan selama puluhan tahun, menjaga keaslian rasa dan mempertahankan pelanggan setia. Bagi mereka, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum ekonomi yang menopang kehidupan keluarga.
Sirkulasi ekonomi yang terjadi di pasar takjil menunjukkan bagaimana aktivitas keagamaan dan ekonomi saling berkelindan. Lapak-lapak sederhana menjadi ruang distribusi rezeki yang relatif merata. Dalam arti ini, pasar takjil berkontribusi pada keberlangsungan ekonomi rakyat kecil.
Namun di sinilah kompleksitas muncul. Solidaritas sosial dan perputaran ekonomi berjalan beriringan dengan peningkatan konsumsi kolektif. Secara normatif, Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Puasa melatih kesederhanaan, empati terhadap yang lemah, dan pembatasan hasrat. Namun dalam praktik sosial, konsumsi sering kali justru meningkat.
Menu berbuka menjadi lebih beragam dibanding hari biasa. Puasa seharian kerap “dibalas” dengan pembelian aneka hidangan sekaligus. Di sinilah paradoks itu muncul: puasa melemahkan tubuh, tetapi menguatkan pasar. Konsumsi tidak pernah murni persoalan biologis. Ia adalah praktik sosial yang sarat makna. Meja yang penuh dipersepsikan sebagai simbol keramahan. Variasi menu dianggap bentuk perhatian terhadap keluarga. Tanpa disadari, standar sosial terbentuk. Individu menyesuaikan diri agar tidak tampak kurang.
Ketika mayoritas membeli dalam jumlah besar, ekspektasi kolektif meningkat. Perilaku individu dipengaruhi norma kerumunan. Pasar yang padat bukan hanya refleksi kebutuhan, tetapi juga dinamika imitasi sosial. Dampaknya tidak selalu netral. Permintaan bahan pokok yang melonjak dapat mendorong kenaikan harga. Kelompok ekonomi lemah menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Di sini terlihat bahwa konsumsi Ramadan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan fenomena yang memiliki implikasi struktural.
Puasa dimaksudkan untuk melatih empati terhadap orang miskin. Namun jika perilaku kolektif justru memperberat beban mereka, maka muncul kontradiksi moral yang patut direfleksikan. Apakah ini berarti pasar takjil adalah masalah? Tentu tidak. Pasar takjil adalah ekspresi budaya Ramadan yang telah mengakar. Ia menghadirkan kegembiraan kolektif dan memperkuat jaringan sosial. Ia juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Persoalannya bukan pada keberadaannya, melainkan pada batas. Dalam etika religius, inti ajaran bukan pelarangan total, melainkan moderasi. Pengendalian diri bukan berarti meniadakan kesenangan, tetapi menempatkannya dalam ukuran yang proporsional. Ramadan mempertemukan dua dimensi: spiritualitas yang reflektif dan sosialitas yang ekspresif. Pasar takjil berada di persimpangan keduanya. Ia dapat menjadi ruang solidaritas yang hangat, tetapi juga ruang reproduksi hasrat konsumtif.
Keseimbangan bergantung pada kesadaran kolektif. Jika konsumsi dipahami sebagai bagian dari kebersamaan yang tetap memperhatikan batas, ia menjadi praktik budaya yang sehat. Namun jika berubah menjadi ajang kompetisi simbolik—siapa yang lebih lengkap dan lebih meriah—maka esensi pengendalian diri perlahan terkikis.
Sapaan “singgahki sebentar” mengajak orang mampir ke lapak gorengan. Ramadan seharusnya juga mengajak kita mampir ke dalam diri. Refleksi adalah inti transformasi moral. Tanpa refleksi, ritual mudah menjadi rutinitas. Pertanyaannya bukan sekadar apakah kita membeli, tetapi bagaimana kita memaknai pembelian itu. Apakah ia bentuk kebersamaan yang proporsional? Ataukah sekadar pelampiasan hasrat yang tertahan?
Pasar takjil Pekkabata memperlihatkan wajah Ramadan yang hangat, komunikatif, dan penuh identitas budaya. Namun di tengah ramainya transaksi dan kayanya pilihan menu, Ramadan tetap mengajarkan satu prinsip sederhana, ykni: rasa cukup.
Rasa cukup adalah fondasi keadilan sosial. Ketika individu mampu membatasi diri, ruang bagi yang lain terbuka lebih luas. Pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menata ulang hubungan kita dengan keinginan, dengan sesama, dan dengan makna kebersamaan itu sendiri. Di tengah keramaian pasar takjil, di situlah Ramadan diuji—bukan hanya di masjid, tetapi juga di ruang publik yang paling riuh. Selamat Berpuasa


