Merekam Karya, Merawat Budaya

Merekam Karya, Merawat Budaya

Sehari Menjadi Pakar Maaf, Belajar Malaqbiq Sepanjang Tahun

Tanggal:

Oleh: M. Abid. Alimuddin Lidda
(Akademisi)

Setiap 1 Syawal, Indonesia seperti memasuki satu ruang batin yang sama: ruang untuk merendahkan diri. Sejak pagi hingga malam, kalimat “mohon maaf lahir dan batin” mengalir di ruang-ruang keluarga, tempat ibadah, hingga layar ponsel. Grup WhatsApp yang biasanya sunyi mendadak hidup, dipenuhi ucapan, foto ketupat, dan pesan-pesan yang mengajak untuk saling memaafkan.

Pada hari itu, kita semua tampak fasih berbicara tentang maaf. Seolah-olah, dalam sehari, kita menjadi pakar rekonsiliasi. Ego yang selama sebelas bulan dipertahankan, mendadak diturunkan volumenya. Relasi yang sempat renggang diberi jeda. Perasaan yang lama tertahan menemukan momentumnya untuk diungkapkan.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan budaya, melainkan praktik sosial yang menarik. Dalam perspektif komunikasi, tindakan kolektif semacam ini memperkuat kohesi sosial. Kita seperti menekan tombol “reset” bersama-sama—bukan karena semua persoalan selesai, melainkan karena ada kesediaan untuk memulai kembali. Ritual yang berlangsung serempak ini menciptakan rasa kebersamaan yang jarang ditemukan dalam momen lain sepanjang tahun.

Namun di balik euforia itu, ada pertanyaan yang layak diajukan: apakah kepiawaian kita meminta maaf di hari Lebaran cukup untuk membangun kemuliaan dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam tradisi Mandar, dikenal konsep malaqbiq—sebuah nilai yang tidak hanya berbicara tentang kesopanan, tetapi tentang kemuliaan akhlak yang utuh. Malaqbiq tercermin dalam cara seseorang bertutur, bersikap, menjaga perasaan orang lain, serta dalam kesediaannya merendahkan ego demi menjaga hubungan. Ia bukan sekadar norma sosial, melainkan kualitas diri yang hidup dalam keseharian.

Berbeda dengan praktik maaf di 1 Syawal yang bersifat simbolik dan serentak, malaqbiq justru tumbuh dalam hal-hal yang sunyi dan berulang. Ia hadir dalam kesabaran menghadapi perbedaan, dalam kemampuan menahan amarah, dalam kepekaan membaca situasi, serta dalam keberanian mengakui kesalahan tanpa harus menunggu momentum tertentu. Dengan kata lain, malaqbiq bukan peristiwa, melainkan kebiasaan.

Di sinilah 1 Syawal menemukan relevansinya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar hari untuk menjadi “pakar maaf” secara massal, melainkan ruang latihan kolektif untuk mendekati nilai malaqbiq. Kita belajar, meski hanya sehari, bagaimana rasanya merendahkan diri, membuka ruang dialog, dan memprioritaskan hubungan di atas gengsi.

Dalam komunikasi interpersonal, permintaan maaf adalah bentuk pengakuan bahwa kita tidak selalu benar. Ia menuntut kerendahan hati sekaligus keberanian. Ada risiko ditolak, ada kemungkinan tidak diterima. Namun justru di situlah letak nilai kemanusiaannya. Seseorang yang meminta maaf sedang membuka dirinya, sementara yang memaafkan sedang menjaga keberlanjutan relasi.

Konsep face-saving dalam ilmu komunikasi menjelaskan bagaimana individu berupaya menjaga martabat dirinya sekaligus orang lain dalam interaksi sosial. Dalam praktik sehari-hari, menjaga “wajah” ini sering kali berarti menahan ego, memilih kata dengan hati-hati, dan menghindari tindakan yang dapat melukai. Dalam konteks budaya Mandar, sikap-sikap semacam ini merupakan bagian dari malaqbiq.

Pada hari Lebaran, praktik tersebut tampak dalam bentuk yang lebih kasat mata. Di ruang tamu yang dipenuhi toples kue dan gelas sirup, kita menyaksikan negosiasi simbolik yang halus: senyum yang diperlebar, pelukan yang dipererat, dan kalimat-kalimat sederhana yang meredakan jarak. Bahkan konflik yang belum sepenuhnya selesai pun sering kali diberi jeda. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa hari itu adalah hari untuk menjaga, bukan memperpanjang luka.

Perkembangan teknologi juga memperluas ruang praktik ini. Permintaan maaf kini tidak hanya berlangsung secara tatap muka, tetapi juga melalui pesan pribadi, unggahan media sosial, hingga siaran broadcast. Sebagian mungkin berupa template yang berulang setiap tahun. Namun di balik itu, tetap ada upaya untuk menjangkau, untuk menghubungkan, dan untuk mengakui relasi.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih relevan: apakah nilai yang kita praktikkan pada hari itu benar-benar kita bawa ke hari-hari berikutnya?

Sebab menjadi pakar maaf sehari jauh lebih mudah daripada memelihara malaqbiq sepanjang tahun. Di luar suasana Lebaran, tanpa ketupat, tanpa antrean salaman, dan tanpa dorongan sosial untuk saling memaafkan, ego sering kembali mengambil alih. Kata “maaf” kembali terasa berat. Kesabaran kembali diuji. Relasi kembali menghadapi kerentanan yang sama.

Di titik ini, 1 Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai puncak, melainkan sebagai awal. Ia adalah momentum yang membuka kemungkinan—bukan tujuan akhir. Jika nilai yang kita latih pada hari itu berhenti sebagai ritual tahunan, maka kita hanya menjadi “pakar maaf” sesaat. Namun jika ia dilanjutkan dalam keseharian, maka kita sedang membangun malaqbiq sebagai karakter.

Barangkali, yang membuat 1 Syawal istimewa bukan karena semua orang tiba-tiba menjadi lebih baik, melainkan karena semua orang bersedia merendahkan diri secara bersamaan. Ada kesadaran kolektif bahwa hubungan lebih penting daripada gengsi. Dalam dunia yang sering dipenuhi perdebatan, polarisasi, dan kesalahpahaman, kesediaan untuk merendahkan diri adalah kekuatan sosial yang tidak kecil.

Di sinilah nilai lokal seperti malaqbiq menemukan relevansi nasionalnya. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan tidak dibangun dari momen besar semata, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia mengingatkan bahwa menjaga hubungan bukanlah tindakan sesekali, tetapi proses yang terus-menerus.

Pada akhirnya, 1 Syawal mengajarkan kita bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan. Ia adalah langkah awal menuju kemuliaan akhlak. Namun kemuliaan itu tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh dari latihan, dari kebiasaan, dan dari keberanian untuk tetap rendah hati bahkan ketika tidak ada momentum khusus yang mendorongnya.

Sehari dalam setahun, kita belajar menjadi pakar maaf. Di sebelas bulan berikutnya, kita ditantang untuk menjadi manusia malaqbiq—manusia yang tidak hanya pandai mengucapkan maaf, tetapi juga mampu merawat hubungan dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.
Selamat 1 Syawal. Semoga maaf yang kita ucapkan hari ini tidak berhenti sebagai tradisi, tetapi tumbuh menjadi watak.(*)

Bagikan di:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer di Baca

Postingan Lainnya
Related

(Resensi) Bukan Cuma Manajer: Ini Bedanya Pemimpin Efektif Versi Buku “Leadership dan Kepemimpinan”

Oleh: Arniyaty Amin (Penggiat Literasi di Makassar) Judul: Leadership dan Kepemimpinan Penulis: 1....

Mohammad Zain; Dari Clean Table hingga Pertengkaran Intelektual

Oleh: Abd Rahman Hamid (Wakil Dekan I Fakultas Adab...

Kue Minyak, Jajanan Tradisional Mandar yang Tetap Bertahan

Tomandar, - Kue minyak merupakan salah satu kuliner tradisional...

Ketua BPW KKMSB Lantik Pengurus Baru IPMP Yogyakarta, Ini Pesannya

Tomandar, — Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Mandar...