Oleh: Muhammad Zain,
(Ketua Umum BPP KKMSB Sulbar, Kepala Biro SDM Kemenag RI, Dosen UIN Syarifhidayatullah Jakarta)
Syahdan, Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama menasehati A’isyah, isteri terkasihnya agar mengetuk pintu surga setiap harinya. A’isyah lalu bertanya, dengan apa? Dengan lapar, jawab Nabi shalla Allah ‘alaih wa sallama.
Demikianlah, ternyata lapar memiliki kekuatan dahsyat. Mungkin itulah sebabnya, sehingga puasa merupakan salah satu ibadah yang sangat istimewa.
Konon, pada masa dahulu kala, kalau ada jawara yang mau meningkatkan kesaktiannya, biasanya ia menempuh dengan berpuasa dengan ritual tertentu. Seorang ibu yang hidup di pedesaan biasanya menjalankan nazar tertentu, yakni dengan berpuasa, ketika anaknya menempuh ujian sekolah ( kuliah).
Firman Allah Swt dalam salah satu hadis qudsi: “Kullu ‘amali ibni Adam lahu illa al-shiyam, fa innahu li wa ana ajzi bih”. Setiap amal ibadah anak cucu Adam adalah untuk Allah, kecuali puasa. Sebab puasa adalah milik-Ku, dan aku pulalah yang akan membalas atas ganjaran puasa tersebut.
Ada apa dengan puasa? Bukankah seluruh ibadah adalah milik Allah Swt? Bukankah seluruh amal ibadah seorang hamba juga dibalas oleh Allah Swt? Rupanya puasa ini memiliki sifat-sifat dan pesan-pesan ketuhanan yang mendalam.
Orang yang berpuasa sesungguhnya ia sedang mencontoh sifat-sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum. Orang yang berpuasa, dan selanjutnya berderma dengan memberi makan kepada mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa juga sedang mencontoh sifat Allah Swt.
Yakni, Allah yang selalu menyiapkan seluruh kebutuhan hamba-hamba-Nya.
Itulah sebabnya, al-Barr–Allah Maha Baik–salah satu asma’ al-husna–nama-nama terbaik bagi Allah. sebagai al-Barr, Allah Swt menyiapkan seluruh yang dibutuhkan semua makhluk-Nya, sementara Allah sendiri tidak menikmatinya.
Mungkin inilah salah satu pesan spiritual ayat al-Qur’an yang berbunyi: lan tanalu al-birr hatta tunfiqu mimma tuhibbun…Kalian belum mendapatkan derajat kebajikan, sebelum kalian menafkahkan harta yang sangat engkau cintai ( Q.S Ali Imran ayat 92).
Walhasil, orang yang lapar akan merasakan betapa sulitnya bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi dalam menjalani kehidupan ini. Dengan lapar, seseorang diharapkan memiliki kepekaan sosial.
Di sinilah, hikmah puasa yang di dalamnya mengandung ibadah mahdhah sekaligus ibadah sosial. Mestinya, seseorang yang berpuasa memiliki kecerdasan sosial yang tinggi.
Barangkali itulah salah satu makna Q.S. al-Baqarah ayat 183, bahwa ujung puasa adalah la’allakum tattaqun, agar kita naik kelas menjadi pribadi taqwa.
Wa Allah a’lam.(*)


