Merekam Karya, Merawat Budaya

Merekam Karya, Merawat Budaya

Ketika Budaya Bicara dalam Tafsir dan Hadis

Tanggal:

Oleh: Asriaty Alda Zain
(Ketua Umum BPP-KWMSB/Dosen UIN Syarif Hidayatullah DPK PTIQ Jakarta)

Setiap orang memahami Al-Qur’an dari jendela kehidupannya. Para ulama pun demikian. Mereka membaca wahyu bukan di ruang kosong, tetapi di tengah budaya, tradisi, dan pengalaman hidup yang membentuk cara pandang mereka.

Tafsir bukan hanya hasil hafalan ayat atau penguasaan bahasa Arab. Ia juga merupakan cerminan zaman dan tempat sang mufasir hidup. Contohnya, ulama di Irak dulu dikenal lebih banyak menafsirkan ayat dengan pendekatan rasional, sementara ulama di Hijaz lebih menekankan riwayat dan kisah para sahabat. Di Andalusia, tafsir berkembang dengan nuansa filsafat dan peradaban yang maju.

Artinya, tafsir Al-Qur’an tidak pernah lepas dari pengaruh budaya. Ia hidup dan tumbuh bersama peradaban manusia. Dan di situlah keindahannya — Al-Qur’an selalu relevan, karena bisa berbicara kepada setiap zaman dengan bahasanya sendiri.

Begitu pula dengan hadis. Banyak riwayat lahir dari konteks sosial tertentu. Sahabat yang pedagang banyak meriwayatkan hadis tentang jual beli. Yang hidup di dunia militer, banyak meriwayatkan tentang strategi perang atau adab berjihad.
Bahkan, sebagian hadis muncul saat umat Islam menghadapi tantangan sosial dan politik seperti ketika Rasulullah Saw membangun masyarakat Madinah yang beragam suku dan keyakinan.

Itulah sebabnya, para ulama hadis tidak hanya meneliti sanad (rantai perawi), tapi juga asbab al-wurud konteks sosial dan sejarah di balik lahirnya hadis.

Perbedaan dalam memahami agama bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa Islam menghargai akal dan kebebasan berpikir. Para imam besar seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi‘i, dan Ahmad bin Hanbal meski berbeda dalam banyak hal tetap saling menghormati. Imam Syafi‘i bahkan pernah berkata, “Pendapatku benar, tapi mungkin salah; pendapat orang lain salah, tapi mungkin benar.”

Di Indonesia, perbedaan pandangan di kalangan ulama dan ormas adalah bagian dari dinamika keagamaan yang sehat. Kita bebas memilih pendapat yang diyakini paling sesuai, tanpa perlu menuding yang lain sesat.

Rasulullah Saw bersabda: “Ikhtilāfu ummatī rahmah.” Perbedaan di antara umatku adalah rahmat.

Maka, alih-alih memperdebatkan siapa yang paling benar, lebih baik kita merawat perbedaan sebagai rahmat, ruang belajar untuk saling memahami, bukan untuk saling menjauh.

Karena di balik warna-warni pemahaman Islam, sesungguhnya mengalir satu tujuan yang sama: mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang paling tulus.

Wallahu a‘lam.

Bagikan di:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer di Baca

Postingan Lainnya
Related

Rayakan HUT ke-16 dan Halal Bihalal, KWMSB Teguhkan Peran Perempuan Mandar

Tomandar, — Keluarga Besar Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat...

(Resensi) Bukan Cuma Manajer: Ini Bedanya Pemimpin Efektif Versi Buku “Leadership dan Kepemimpinan”

Oleh: Arniyaty Amin (Penggiat Literasi di Makassar) Judul: Leadership dan Kepemimpinan Penulis: 1....

Mohammad Zain; Dari Clean Table hingga Pertengkaran Intelektual

Oleh: Abd Rahman Hamid (Wakil Dekan I Fakultas Adab...

Kue Minyak, Jajanan Tradisional Mandar yang Tetap Bertahan

Tomandar, - Kue minyak merupakan salah satu kuliner tradisional...