Tomandar, – BPP Kerukunan Keluarga Wanita Mandar Sulawesi Barat (KWMSB) sukses menggelar Dialog Ramadhan Diaspora Minggu, 1 Maret 2026. Kegiatan yang digelar melalui webinar tersebut dihadiri akademisi dan diaspora Mandar dari berbagai negara.
Kegiatan yang divbuka secara resmi Ketua Umum BPPP-KKMSB ini diikuti oleh sejumlah profesor dan cendekiawan seperti Prof. Wajidi Sayadi, Prof.’ Abzar Duraesa, Prof. Abdul.Majid dan beberapa tokoh agama dan masyarakat mandar lainnya.
Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Zain menekankan pentingnya menghidupkan dialog Ramadhan lintas negara sebagai ruang berbagi pengalaman keberislaman dalam konteks sosial dan geografis yang berbeda. “Ramadhan di negeri orang menghadirkan tantangan dan kekayaan pengalaman yang tidak selalu kita temui di Indonesia,” kata Muhammad Zain dalam keterangan tertulisnya.
Ia mencontohkan pengalaman berpuasa di Turki dan Australia, yang pada musim tertentu durasi siang hari bisa lebih panjang dibanding malam. Sehingga umat Muslim harus berpuasa hingga 16 jam. Selain itu, ia juga menyinggung praktik keislaman di Maroko yang memiliki kekhasan tersendiri, termasuk tradisi jamaah membawa alas kaki masuk masjid dan menyimpannya di atas kain panjang di depan saf.
Menguatkan refleksi keislaman, Dr. Muhammad Zain mengutip pandangan Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sultaniyyah yang juga dirujuk oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, bahwa salah satu keutamaan Ramadhan adalah menambah nafkah ( belanja) kepada isteri dan memperbanyak sedekah sebagai bentuk keberkahan bulan suci.
Salah satu narasumber, Rosita Tandos, Ph.D, awardee Fulbright Program yang menempuh studi di Washington, D.C., menekankan pentingnya merawat identitas keislaman di tengah masyarakat plural seperti Amerika Serikat. Menurutnya, menjadi Muslim minoritas justru memperkuat kesadaran identitas Islam dan nilai-nilai kejujuran serta keberanian yang juga melekat dalam budaya Mandar.
Terkait isu Islamofobia, Rosita menjelaskan bahwa dalam politik domestik, Amerika tetap menjunjung tinggi kebebasan beragama dan hak individu, meskipun dinamika sosial tetap menjadi tantangan tersendiri.
Sementara itu, Sukmahadi yang menempuh studi selama tujuh tahun di Maroko mengulas kekayaan tradisi keilmuan negeri tersebut. Maroko dikenal sebagai tempat berdirinya University of al-Qarawiyyin, salah satu universitas tertua di dunia, bahkan lebih tua dari Al-Azhar University.
Sukmahadi menyebut tokoh besar seperti Imam al-Jazuli, penulis kitab Dala’il al-Khairat dan Ibn Battuta, Kitab al-Rihlah sebagai bukti kuatnya tradisi intelektual Maroko yang bermazhab Maliki. Di sana, orang boleh berwudhu’ dengan sedikit air dari ember kecil. Pemandangan yang berbeda di Indonesia yang bermazhab Syafi’iyah, harus dengan air dua kullah.
Pengalaman lain datang dari diaspora di Belanda oleh Yustika Noor dan Agus Wandi dari Australia yang menyoroti tantangan cuaca ekstrem serta panjangnya durasi puasa.
Yustika berkisah bahwa, berpuasa di Belanda kadang ditentukan oleh cuaca. “Kalau cuaca lagi ekstrim, orang akan berpikir untuk menunaikan puasa ramadhan,” urai Yustika.
Hal senada juga diulas oleh Agus Wandi, berpuasa di Australia selama 16 jam adalah pengalaman yang menantang dan penuh kenangan. “Di Australia, puasa bisa berlangsung hingga 16 jam pada musim tertentu,” bebernya.
Adapun suasana Ramadhan di Arab Saudi, sebagaimana disampaikan Ustaz Ansar, menunjukkan semangat sedekah yang luar biasa. Di sekitar Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, para dermawan berlomba-lomba menyediakan hidangan berbuka puasa secara gratis bagi jamaah.
Yusri Anam yang masih menjalankan Studynya di Turky’ tepatnya kota Spiritual Konya. Turky menganut mazhab Hanafiyah lebih rasional. Negaranya mayoritas Islam. Kegemaran orang Turky minum teh.
Zulkifli dari pengurus BPP KKMSB bertanya tentang Islam fobia di Barat terutama Amerika dan pengalaman dari setiap pembicara yang merupakan putra putri daerah. Dari Ketua BPP-KWMSB Asriaty Alda Zain merespon dengan mengajukan pertanyaan tentang kondisi di negara minoritas Islam apakah merasakan kesunyian spiritual di bulan Ramadhan sebagai diaspora atau justru semakin menguatkan iman.
Apakah dengan perbedaan mazhab disetiap negara seperti Maroko bermazhab Maliki’ Turky bermazhab Hanafi’ Arab Saudi bermazhab Hanbali mempengaruhi praktek keagamaan pada saat di Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi’i.
Webinar ini menjadi ruang refleksi bahwa Islam hadir dalam beragam wajah budaya dan konteks global. Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, tetapi juga momentum memperkuat identitas, solidaritas, dan jejaring diaspora Mandar di panggung dunia.(*)


