Oleh: Adi Arwan Alimin
(Penggiat Literasi di Tanah Mandar)
Ada masa ketika kita begitu mudah menyebut diri sebagai orang Mandar. Tetapi diam-diam kita sendiri belum selesai memahami apa makna menjadi Mandar di zaman yang bergerak lebih cepat daripada arus sungai di musim hujan.
Kita lahir di tanah yang dibentuk oleh dua kekuatan besar—hulu dan hilir—oleh pertemuan yang dalam sejarahnya dikenal sebagai Pitu Ulunna Salu dan Pitu Baqbana Binanga. Namun sering kali kita hanya mewarisi namanya tanpa sungguh-sungguh menyelami maknanya.
Mandar tidak pernah berdiri hanya di gunung, dan tidak pula hanya di pantai. Ia lahir dari kesadaran bahwa air yang mengalir dari hulu tidak pernah membanggakan dirinya sebagai sumber semata, dan muara tidak pernah merasa lebih mulia hanya karena ia bersentuhan dengan laut. Sebab keduanya saling membutuhkan, samasama menguatkan, dan silih menjaga agar aliran itu tetap hidup.
Di situlah sesungguhnya identitas kita dibentuk: bukan dalam sikap merasa paling benar, tetapi dalam kesediaan untuk menyatu.
Generasi muda Mandar hari ini hidup dalam dunia yang tidak lagi dibatasi oleh sungai dan laut, melainkan oleh layar-layar kecil yang memadatkan dunia menjadi ruang tanpa jarak, dan di tengah derasnya informasi serta perubahan nilai yang begitu cepat, kita sering kali tergoda untuk memotong akar agar terasa lebih ringan melangkah.
Padahal akar itulah yang menjaga kita agar tidak roboh ketika angin perubahan datang lebih kencang daripada yang pernah dialami leluhur kita. Menjadi modern tidak pernah berarti harus menjadi tercerabut.
Hulu mengajarkan kita tentang kesabaran yang panjang, tentang tanah yang harus diolah dengan tekun sebelum ia memberi hasil. Perihal keyakinan bahwa sesuatu yang tumbuh membutuhkan waktu, dan tentang kesediaan menerima proses tanpa tergesa-gesa. Sementara hilir mengajarkan kita keberanian membuka diri, kesiapan berjumpa dengan yang berbeda, serta ketangguhan menghadapi ketidakpastian yang tidak selalu bisa diprediksi.
Jika dua pelajaran ini kita pisahkan, maka yang lahir adalah generasi yang pincang, entah terlalu keras menjaga tradisi hingga menolak perubahan. Ahwal terlalu mudah meniru dunia luar hingga kehilangan ciri.
Identitas Mandar sesungguhnya bukan pada simbol yang tampak, bukan pada seremoni yang sesekali kita rayakan, dan bukan pula pada kebanggaan yang hanya diucapkan ketika ada festival budaya. Melainkan pada cara kita menjaga martabat diri dalam situasi apa pun, bagaimana kita mampu menahan diri dari ketidakjujuran meskipun kesempatan terbuka, dan seperti apa kita berdiri tegak tanpa harus merendahkan orang lain.
Nilai seperti siriq, leppuq, dan sipamandaq terus menjadi semangat saling menguatkan bukan sekadar warisan kata-kata, tetapi fondasi batin yang menentukan. Apakah kita masih layak menyebut diri sebagai bagian dari aliran panjang sejarah Mandar.
Kita perlu mengetuk dinding hati masing-masing bahwa tantangan generasi hari ini bukan lagi penjajahan fisik atau keterbatasan ruang gerak, melainkan krisis makna. Di mana banyak orang bergerak cepat tetapi tidak tahu ke mana arah sebenarnya, banyak yang berbicara keras tetapi kehilangan kedalaman, dan banyak yang tampil percaya diri tetapi rapuh ketika diuji.
Dalam situasi seperti ini, filsafat hulu–hilir menjadi sangat relevan, karena mengajarkan bahwa setiap perjalanan harus memiliki asal dan tujuan. Bahwa setiap langkah yang jauh atau sejauh-jauhnya tetap harus terhubung dengan sumbernya.
Menjadi Mandar tidak berarti harus selalu tinggal di kampung halaman. Tidak pula berarti harus bekerja di sektor tertentu agar dianggap setia pada identitas. Sebab yang lebih penting adalah membawa cara pandang Mandar ke mana pun kita pergi: cara pandang yang menghargai keseimbangan, yang tidak mudah memutus silaturahmi hanya karena perbedaan, yang tidak membangun keberhasilan di atas kehancuran sesama. Orang Mandar amat memahami bahwa kehormatan tidak pernah lahir dari kesombongan.
Di mana pun generasi muda Mandar berada—di kota besar, di kampus, di ruang-ruang profesional, atau bahkan di luar negeri mesti selalu membawa aliran itu dalam dirinya.
Persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Pitu Baqbana Binanga sesungguhnya adalah pesan lintas zaman bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah. Walakin kesempatan untuk saling melengkapi, dan jika dahulu leluhur kita mampu menyatukan gunung dan muara dalam satu kesadaran kolektif. Maka tidak ada alasan bagi kita hari ini untuk terjebak dalam fragmentasi yang sempit, baik karena politik, ego pribadi, maupun persaingan yang tidak sehat. Mandar berdiri karena persatuan, dan hanya akan bertahan jika generasinya mampu merawat semangat itu.
Mungkin yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri bukan lagi “Apa yang telah dilakukan leluhur kita?”, melainkan “Apakah kita sedang memperpanjang aliran itu, atau justru mengeringkannya?”
Sebab sejarah tidak berhenti pada cerita masa lalu; namun terus saja berlanjut melalui keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Keputusan untuk jujur atau tidak, untuk setia pada nilai atau mengkhianatinya, untuk membangun atau merusaknya.
Jika generasi muda Mandar mampu memahami bahwa identitas bukanlah beban melainkan sumber kekuatan, bahwa tradisi bukanlah penghalang melainkan kompas, dan bahwa modernitas bukanlah ancaman melainkan ruang pengabdian baru. Maka kita tidak perlu khawatir tentang masa depan.
Kita akan tetap mengalir, sebagaimana sungai yang setia pada hulunya namun tidak takut menjangkau laut. Pada akhirnya, seperti setiap aliran sungai, kita akan sampai pada muara yang lebih luas tanpa pernah kehilangan asal. Tabe maraya… (*)
Mamuju, 23 Februari 2026


